Data Dokter

Voting

Daun Kelor Sebagai Fortifikasi Diet Pasien Anak

Kamis, 19 Desember 2013 - 11:45:21 WIB | Pembaca : 551
Diposting oleh : Administrator
 

MANFAAT DAN KANDUNGAN GIZI DAUN KELOR

Moringa oleifera, nama latin dari tanaman ini. Tanaman ini dikenal sebagai ' kelor ' di Jawa , ' mronggih ' di Madura, ' moltong ' di Flores, ' kelo ' di Gorontalo, ' keloro ' di Bugis, ' kawano ' di Sumba, ' ongge ' di Bima, dan ' kerol ' di Buru.

     Sejak dahulu, para pengobat tradisional telah memanfaatkan banyak bagian dari Moringa oleifera untuk pengobatan penyakit kulit ,penyakit pernafasan, infeksi telinga dan gigi, hipertensi, diabetes, pengobatan kanker, pemurnian air, dan telah mempromosikan penggunaannya sebagai sumber makanan padat gizi.

     Tree for Life, sebuah sebuah lembaga masyarakat yang berbasis di Amerika Serikat, telah meneliti dan mempromosikan manfaat gizi dari Moringa oleifera di seluruh dunia. Dari hasil penelitian Tree for Life, tiap gram Moringa oleifera memiliki 4 kali lipat vitamin A dari wortel , 7 kali vitamin C dari jeruk , 4 kali kalsium susu , 3 kali kalium dari pisang , ¾ besi dari bayam , dan 2 kali protein yoghurt.

     Sumber yang lain menyebutkan bahwa serbuk daun Moringa oleifera juga tinggi akan kandungan kalsium, namum juga mengandung sejumlah besar asam oksalat ( 635mg per 100g ), yang mengganggu penyerapan kalsium. Meskipun memiliki penyerapan dan retensi terbaik untuk zat gizi kalsium, 73 % kalsium yang dikandung oleh Moringa oleifera diserap dan 59 % dipertahankan, sehingga memberikan alternatif sumber kalsium yang baik saat susu tidak tersedia.

     Wooww...hebat sekali bukan kandungan gizinya.. Nah, berdasarkan dari data data tersebut, Instalasi Gizi Rumah Sakit Waluyo Jati berinisiatif untuk meneliti dan mengaplikasikan manfaat dari daun kelor ini untuk diet pasien di Rumah sakit, khususnya diet bagi pasien anak yang kurang gizi.

DAUN KELOR SEBAGAI FORTIFIKASI DIET PASIEN ANAK

     Instalasi Gizi RSUD Waluyo Jati, telah menggunakan serbuk daun  Moringa oleifera  sebagai fortifikasi dalam menu sehari-hari bagi pasien anak-anak dengan status gizi rendah sejak 2012. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pertama di Indonesia yang menerapkan makanan lokal untuk makanan fungsional di tingkat klinis. Dilatarbelakangi adanya permasalahan tingginya rehospitalisasi pasien marasmus di ruang anak, maka dilakukankah sebuah analisa dan penelitian untuk menggunakan makanan lokal yang mudah, murah dan efektif namun bernilai gizi tinggi, sehingga pada akhirnya akan mengurangi jumlah relaps pasien marasmus di ruang anak.

     Serbuk daun Moringa oleifera dibuat oleh ahli gizi sendiri dengan menggunakan pohon Moringa oleifera lokal. Daun Moringa oleifera segar, hijau, tidak rusak, dan tidak mengandung serangga diperoleh dari petani lokal dari Kabupaten Probolinggo. Daun dipisahkan dari tangkai lalu dicuci menggunakan air bersih yang mengalir dan ditiriskan. Daun dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari langsung sampai renyah dan rapuh saat disentuh. Daun yang telah kering dihancurkan menggunakan blender, dan bubuk daun diperoleh dengan diayak. Setiap anak-anak yang kekurangan gizi akan diberikan 8 g serbuk daun Moringa oleifera dalam diet rumah sakit mereka sebagai dosis harian. Berikut contoh menu diet rumah sakit yang difortifikasi dengan serbuk daun Moringa oleifera.

Meatball Soup Moringa Oliev Mashed Potatoes Pudding Ice Soup
Pudding Meatball red Soup Satay Sauced Egg Nugget

     Di Rumah Sakit Waluyo Jati, anak-anak cenderung suka dengan menu diet yang difortifikasi serbuk daun Moringa oleifera, karena tim gizi memberikan dosis yang tidak terlalu banyak dan mengemas menu dalam cara yang menarik, seperti puding dengan bentuk hewan dan menu bakso, sate, es, dll. Intervensi edukasi juga dilakukan dengan obyek orang tua pasien melalui leaflet tentang manfaat serbuk daun Moringa oleifera, bagaimana mengolah daun Moringa oleifera menjadi serbuk menggunakan teknologi pengeringan yang murah (pengeringan matahari langsung), dan bagaimana menerapkan serbuk daun Moringa oleifera dalam makanan sehari-hari mereka di rumah.

     Proses perawatan gizi buruk secara holistik meliputi intervensi diet dan edukasi memberikan dampak positif pada parameter perubahan perilaku dan rata-rata berat badan dan rata-rata lama rawat inap. Perubahan perilaku anak-anak dengan gizi buruk meningkat dari apatis menjadi aktif. Peningkatan berat badan juga meningkat tapi tidak signifikan karena adanya edema yang dapat mengurangi validitas pemantauan berat badan. Rata-rata lama rawat inap mengalami penurunan, 3 hari lebih cepat ketika dibandingkan dengan pasien non – intervensi serbuk daun Moringa oleifera.

     Untuk menyempurnakan temuan ini, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan skala lebih besar yang akan segera dilakukan dalam waktu dekat oleh tim gizi. Intervensi ini diharapkan dapat mengurangi angka rehospitalisasi pasien anak di Rumah Sakit Waluyo Jati dan pada akhirnya  juga dapat membantu para orang tua yang mempunyai anak dengan gangguan gizi, dengan memanfaatkan makanan lokal yang bergizi tinggi.

 

 

 


 

Berita & event terkait