Data Dokter

Voting

Tidak Batuk TIDAK BERARTI Tidak Menderita TBC Paru

Jumat, 02 Mei 2014 - 12:32:01 WIB | Pembaca : 513
Diposting oleh : Administrator

Tidak Batuk TIDAK BERARTI Tidak Menderita TBC Paru

Oleh: dr. Fauzijah Sri Rahmawati Sp.P

     Ilustrasi kasus : Ibu Siti datang ke poli paru. Dia akan menjalani operasi. Dari hasil foto dadanya disimpulkan bahwa ibu Siti menderita TBC paru, dengan dejarat lesi minimal. Selama ini ibu Siti tidak pernah merasa bahwa dia menderita penyakit tuberkulosis paru, karena ibu Siti tidak pernah mengalami batuk apalagi batuk yang disertai dengan darah.

Banyak orang mengira bahwa penyakit tuberkulosis paru harus selalu disertai dengan batuk. Memang pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Karena batuk merupakan gejala penyakit tuberkulosis paru, terutama batuk yang lamanya lebih dari 2 minggu.

Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk melakukan pembersihan jalan napas dari lendir, zat berbahaya, dan infeksi serta meminimalisir inhalasi zat toksik ke dalam tubuh. Batuk dapat menjadi tanda adanya penyakit baik di dalam maupun di luar saluran napas. Pada kondisi tertentu seperti lanjut usia, bayi baru lahir (neonatus), penerima transplantasi paru, dan penderita paralisis atau gangguan otot, maka refleks batuk pada pasien-pasien ini tidak berfungsi normal.

Pada awal perjalanan penyakit tuberkulosis paru, bagian paru yang mengalami proses infeksi ada di saluran napas kecil dan alveoli (saluran napas yang paling kecil). Pada area ini tidak terdapat persarafan penerima rangsangan batuk sehingga kemungkinan untuk menimbulkan keluhan batuk sangat kecil. Area saluran napas bawah yang paling sensitif untuk memicu terjadinya batuk adalah di daerah trakeobronkial, terutama karina (percabangan bronkus) dan ujung-ujung cabang bronkus. Sehingga apabila infeksi tuberkulosis tidak mengenai area ini, maka keluhan batuk belum muncul.

Keadaan sebaliknya terjadi pada pasien perokok. Perokok sangat mudah mengalami batuk sehingga apabila perokok mengalami batuk, dan pada saat yang sama juga mengalami infeksi tuberkulosis paru, maka dia akan menganggap batuk yang terjadi adalah dikarenakan paparan asap rokok.

Batuk bukanlah merupakan satu-satunya keluhan yang menyertai seorang penderita tuberkulosis paru. Keluhan lain yang dapat terjadi pada penderita tuberkulosis paru dibagi 2 golongan yaitu gejala lokal (respiratorik) dan gejala sistemik. Gejala lokal selain batuk adalah sesak napas dan nyeri dada. Gejala respiratorik ini sangat bervarisi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat, tergantung dari luas kerusakan paru yang terjadi. Terkadang pasien terdiagnosis tuberkulosis paru saat melakukan medical check up. Sedangkan gejala sistemik yang dapat terjadi adalah demam, keringat malam, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, dan rasa tidak enak badan (malaise).

Infeksi tuberkulosis sebenarnya tidak hanya menyerang saluran napas, dalam hal ini paru, tetapi juga dapat menyerang semua organ di dalam tubuh manusia. Infeksi ini disebut tuberkulosis ekstra paru. Gejala atau keluhan tuberkulosis ekstra paru ini tergantung pada organ yang terlibat.

Oleh karena gejala tuberkulosis paru ini terkadang tidak disertai batuk, maka munculnya gejala respiratorik lain maupun gejala sistemik yang telah disebutkan di atas dapat menjadi petunjuk untuk dilakukan pemeriksaan klinis, baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang, untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis paru. Mengingat bahwa Indonesia merupakan Negara dengan urutan ke-4 terbanyak jumlah penderita tuberkulosis setelah India, Cina, dan Afrika Selatan, maka perlu dilakukan deteksi dini infeksi tuberkulosis paru terutama pada kelompok resiko tinggi.

 

 


 

Berita & event terkait