Data Dokter

Voting

Sosialisasi Infeksi HIV pada Anak

Jumat, 20 Desember 2013 - 10:16:48 WIB | Pembaca : 338
Diposting oleh : Administrator
 

SOSIALISASI INFEKSI HIV PADA ANAK

Pada hari selasa, 10 desember 2013 kemarin dilaksanakan sosialisasi mengenai infeksi HIV pada anak, bertempat di ruang pertemuan RSWJ. Sosialisasi ini dihadiri oleh kalangan medis, paramedis dan manajemen..

Sosialisasi ini diawali dengan pemaparan kembali penelitian tim gizi RSWJ yang diwakili oleh Putro tentang manfaat luar biasa dari tepung daun kelor untuk mempercepat pemulihan gizi pasien malnutirisi anak, sekaligus persiapan untuk penelitian yang lebih lanjut dari penggunaan tepung daun kelor dalam diet pasien anak di RSWJ.

Kemudian dalam sesi berikutnya, dr Made Suderata, SpA memulai presentasinya dengan menjelaskan secara rinci mengenai infeksi HIV pada anak, penularan, terapi dan pencegahannya. Pertemuan ini juga sebagai titik awal bergabungnya SMF anak ke dalam pelayanan VCT/CST, sehingga dharapannya penderita HIV/AIDS anak dapat ditangani secara maksimal di RS Waluyo Jati.

Dalam paparannya, dr Made Suderata menjelaskan bahwa untuk menekan angka kejadian HIV pada anak, maka diperlukan suatu upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi, yang dikenal dengan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) atau PMTCT (Prevention Mother To Child Transmission).  Infeksi HIV pada anak 90% diantaranya tertular dari ibu lewat proses kehamillan, persalinan dan menyusui.  29 % penularan terjadi saat trimester III kehamilan, 20 % saat persalinan dan 39 % saat menyusui. Sedangkan resiko ibu hamil menularkan infeksi HIV pada anaknya adalah 45%. Dengan PPIA HIV ini , akan mengurangi resiko dari penularan 20-40 %→menjadi 0,1-2%, sehingga diharapkan dapat menurunkan bahkan memutus mata rantai penularan HIV dari ibu ke anak.  

Pelayanan PPIA di rumahsakit tertuju pada semua ibu hamil yang datang ke RS, terintegrasi dengan pelayanan KIA/KB dan konseling remaja dan dilaksanakan bersamaan laboratorium rutin lain. Pelayanan PPIA ini menjadi bagian dari pelayanan klinik VCT/CST.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah diagnosis dan terapi HIV pada anak. Diagnosis HIV pada anak tidak semudah pada dewasa.  Sumber penularan HIV pada anak usia <13 th, 90% didapat  vertikal dari ibunya. Namun karena antibodi ibu terbawa bayi sampai usia 18bulan, jadi diagnosis HIV pada anak dilakukan bertahap. Uji virologi merupakan pilihan Dx anak <18 bulan, sedangkan pemeriksaan serologi menjadi pilihan anak>18 bulan.

Lebih lanjut dr.Made juga menjelaskan mengenai terapi HIV pada anak. Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV diberikan terapi ARV profilaksis sesegera mungkin < 6-12 jam setelah lahir dan diberikan profilaksis cotrimoxazole sampai diagnosa HIV dapat ditegakkan. Sedangkan untuk keperluan imunisasinya, secara umum hampir sama dengan bayi sehat lainnya namun perlu dihindari pemberian imunisasi dengan vaksin hidup, misalnya BCG, Polio  Oral, Campak, MMR Dan Varicella.

Untuk mencegah transmisi dari ibu ke anak, hal yang harus dilakukan adalah memberikan ARV sesegera mungkin pada ibu hamil yang terdiagnosa HIV kemudian merencanakan persalinan yang aman untuk bayinya. Hal ini dibenarkan oleh dr.Alam Sp.OG yang menyebutkan bahwa persalinan paling aman untuk mencegah transmisi HIV dari ibu ke bayi adalah dengan SC. Tentunya tindakan SC untuk penderita HIV ini harus betul betul dipersiapkan untuk meminimalkan resiko penularan saat operasi.

Dalam pertemuan ini juga dicapai suatu komitmen bersama antara pihak manajemen rumah sakit yang diwakili oleh dr.mansur dengan kalangan medis untuk membentuk tim PMTCT RS serta melaksanakan secara maksimal pelayanan PMTCT di RS Waluyo Jati.


 

Berita & event terkait